22. Mei, 2014

“Mengapa kau tidak jujur?

"Kiriman dari : Ningrum Suparmin

Seorang ayah diantar oleh anaknya dengan menggunakan mobil pergi ke pasar. Ayah setiap hari berjualan buah di pasar yang jaraknya 20 km dari rumahnya. Ini merupakan pengalaman pertama bagi anaknya untuk mengantarkan sang ayah.

Ayah berpesan untuk dijemput pukul empat sore. Kebetulan sore itu anaknya sedang bermain bola sehingga baru pergi untuk menjemput pada pukul enam.

“Maaf ayah, tadi mobilnya mogok di jalan.”

“Mengapa kau tidak jujur? Apakah ayah telah salah dalam mendidikmu? Ayah tidak akan pulang denganmu. Ayah akan memikul semua buah-buah ini dan berjalan kaki sampai ke rumah.”

Dengan mobil, anaknya membuntuti sang ayah dari belakang. Dilihatnya ayahnya mulai berjalan terseok-seok dengan beban pada pundaknya. Dia menjadi sadar bahwa berbohong adalah pilihan yang buruk. Andai dia jujur dari semula, maka ayahnya tidak akan menderita.

Banyak orang yang melakukan kesalahan baik disengaja ataupun tidak disengaja. Tidak sedikit pula diantara kita yang memberikan hukuman dengan keras akibat dari kesalahannya itu.

Hukuman dengan kekerasan tidak akan membuat seseorang itu jera melainkan hanya akan merasakan penderitaan sesaat kemudian melakukannya kembali. Akan lebih baik jika kita memberikan hukuman dengan benar, yang bisa membuat mereka sadar akan kesalahannya. Hukumlah mereka dengan kasih dan jadilah teladan yang baik.

Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.

. oº°˚˚°º.
\=))_ "̮ .
(( "̮
_!!_......ŝ'Ɩäª♍äªţ Ƥäªƍĭέ̯̯͡͡

∫έ|∂♏∂τ berAktifitas......

"